::> Mengkritik tidak berarti membenci, menyokong tidak semestinya sefikrah, berbeda pendapat adalah sebaik-baik teman berfikir <::

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

23/08/2012

My Exciting Journey in Sydney


Pagi setelah melakukan upacara kemerdekaan di Gedung Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia, Sydney, seorang leader sekaligus Duta Pendidikan dan Budaya Indonesia menyertakan saya untuk berjalan-jalan di kota mewah ini. Mewah? Yup, karena kota ini begiiiitu mahal. Hehe..

Sila simak kisah saya ni…!

Jarak dari Perth -tempat saya tinggal selama di Australia- ke Sydney sekitar 3 sampai 4 jam lewat perjalanan darat. Itu pun kalau di tempuh dengan menggunakan bis sebagai akomodasi utama di kota ini. Kalau mau ditempuh lewat berjalan kaki pun, tak apa. Cuma pastinya saya tak mau coba. ^_~

Perth, sewaktu menginjakkan kaki di kota ini, semua panoramanya begitu memesona, memaku emosi jiwa, dan menegunkan benak khayalan. Kabarnya, Perth memang salah satu kota yang sangat ramah alamnya, sebab bila dibandingkan dengan Sydney atau Melbourne, di Perth tentu lebih banyak kita temui hamparan pemandangan alam membahana. Biaya hidup di kota ini pun tidak semahal di Sydney atau Melbourne yang mana earn pegawai hampir setara dengan pengeluaran untuk kebutuhan hidup sehari-hari, meski memang tidak bisa dikatakan murah bila dibandingkan dengan biaya hidup di Indonesia. Maklumlah, Australia adalah Negara teraman dan ternyaman dalam urutan ke-2 di dunia. Indonesia? Ratusan…:)

Alhamdulillah, Allah tempatkan kami, kandidat Indonesia untuk tinggal di kota Perth, berbeda dengan Negara-negara Asia tenggara lainnya seperti Malaysia yang ditempatkan di Melbourne, Singapore di Sydney, dan lainnya…entahlah, saya masih sulit menghafal nama-nama kota di negeri ini. 

Untuk upacara kemerdekaan Indonesia kami semua para duta Indonesia berkumpul di Sydney. Satu jam untuk melangsungkan upacara, dan satu jam lagi untuk menonton bersama acara upacara kemerdekaan yang di adakan di Indonesia. Haru sekali saat itu… Hmm, di Australia, untuk elemen perangkat upacara kemerdekaan ternyata melibatkan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mengais ilmu di negeri ini. Subhanallah…

Syukur Tiada Hingga


Subhanallah, Walhamdulillah, La ilaa-haillallah, wa Allahu Akbar!!!

Subhanallahil Adzhim, 9 jam yang lalu tiba di Perth International Airport setelah menempuh 4 jam waktu penerbangan dan ditambah dengan sekian jam perjalanan untuk sampai pada hotel yang indah ini. Ya, Oslo Paradise.

None words, just Alhamdulillah wa Subhanallah.. menetes air mata ini karena nikmat Allah yang tiada terhingga. Kesempatan yang tidak biasa dan sangat luar biasa. Inilah perjalanan pertama saya menjadi salah satu kandidat Duta Pendidikan dan Budaya Indonesia yang dikirim ke Australia beserta 9 orang sahabat mahasiswa lainnya. Awalnya saya tidak akan pernah menduga apalagi berharap lebih ketika menyodorkan sebuah karya tulis tentang profil pendidikan di Indonesia pada sebuah instansi dimana saya terikat kontrak kerjasama dalam hal pendidikan, hanya apply kemudian beberapa hari selanjutnya salah seorang ketua pelaksana menelpon dan meminta saya untuk melakukan tes wawancara. Kesempatan yang saangat tidak saya duga. Semua itu terjadi ketika masa KKN berlangsung.

Rupanya Allah limpahi masa-masa KKN saya sebagai masa penuh tarbiyah di segala sisi. Mulai dari bagaimana bermuamalah dengan masyarakat, memperbaiki akhlaq pribadi, meneladani akhlaq seorang “Abdullah” yang shalih, menyayangi sahabat sesuai dengan kadar kecintaannya, dan baaanyak lagi hal lainnya. Actually, it’s very AMAZING… Nah, buat saya masa 10 hari di Australia ini adalah masa KKN indah kedua setelah Karanganyar, West Bandung was the End.

Nak buat apa disana?

Perth International Airport

Alhamdulillahil Adzhim, tiada kata lain terucap selain rasa syukur penuh haru karena Allah telah ijinkan saya sampai di negeri Kanguru ini. Alhamdulillah, setelah menempuh jarak penerbangan Jakarta-Perth selama 4 jam, tibalah kami di negeri yang kabarnya orang Muslim dan Non-Muslimnya hidup damai berdampingan. Entahlah, yang jelas saat ini hanya ada rasa gembira dan luar biasa ketika mimpi-mimpi itu satu persatu terwujud. None words, just feel very thanks Allah. Teringat perkataan seorang bijak, Syaikh Adian Husaini, “Ingatlah Allah dikala senang, maka Allah akan mengingatmu dikala susah”. Jadi, detik ini tak perlulah bingung-bingung mau berbuat apa, hanya dzikrullah yang cocok di segala masa. Hmm... ^_~

Kedatangan kami disambut oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia. Suatu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Biasanya acara-acara seperti ini hanya saya lihat di sebuah stasiun televise yang menayangkan parade perlombaan international bergensgi atau kunjungan kenegaraan. Ya Allah…malu  sungguh saya ini. Dengan tampang masih kusut dan mata sembab setelah menangis diawal perjalanan, saya dan kawan-kawan berjalan menghampiri dan dihampiri crew penyambut. Memang tidak ada karpet merah dan terompet pengiring, tapi kalungan bunga Anggrek Hijau telah menghiasi leher saya dan kawan-kawan, dan bagi saya hal itu sudah sangat luaaaar biasa. Maklum lah, setiap kali pulang kerumah tak ada hal macam itu, yang ada adalah peluk-cium Ibunda dan saudara/i tercinta. So, kalung bunga ini adalah substitusinya. Hehe… 

*Eits, Ala fikrah, kok mereka tahu ya kalau saya haaasrat sangat Anggrek Hijau? Ah, everything was fate lah. Kekeke…




Perth pagi hari begitu sejuk dan mendamaikan jiwa, keramaiannya memang tidak seperti semrawutnya Jakarta. Bandara yang tidak pernah sepi dari jadwal penerbangan dan interaksi multi-lateralnya, seperti halnya Garuda Indonesia yang telah menghantarkanku pada Negara ini.

Soekarno-Hatta International Airport


August, 16th 2012
 
Pada pagi yang damai lewat sentuhan dingin yang  menyapu kulit. Tak ada sepatah kata pun yang terucap ketika kami duduk didalam mobil yang mengantarkan hingga Bandara Soekarno Hata. Bukan karena kantuk yang menyerang atau bahkan karena waktu yang begitu mendilatasi partisi jiwa, tapi karena begitu sulit kami merangkai kata perpisahan. Aku dan Ibunda, hanya terdiam menafakuri apa yang tersemat dihati dan tak tersibak lewat ungkapan.

Sesekali ku tengok wajahnya yang meunjukan gurat-gurat kelelahan, semakin lama memandangnya, semakin deras air mata beriringan. Ah, betapa Allah karuniakan rindu dan cinta selaksa alam kepadanya, kepada seorang mujahidah pendamba Surga lewat cinta kasih tulus pada anak-anaknya. Ku biarkan dingin masih terus menyelimuti rindu, hingga barisan katapun tak bisa kurajut. Kini rindu itu berbalas temu satu hari, dimana aku dan nya menzahirkan kasih yang terlewat sekian lama, dan harus ku tinggalkan ia bahkan pada kesempatan menyongsong takbir raya kemenangan.

Hingga 30 menit berlalu menapaki sepi, kemegahan Soekarno-Hatta telah hadir didepan pandangan. Tak kuasa lagi kutanggung bayangan getirnya perpisahan, hingga kali ini aku luluh dalam pelukannya. Ah, mungkin terlalu berlebihan, sebab aku pergi tak akan lama, hanya 10 hari. Tapi besarnya cintaku menjadi hijab keberangkatanku pada sebuah moment penting dalam hidupku. Oh Rabb, betapa pilu.

Pukul 2.45 kami menghiasi Soe-Ta dengan air mata, berharap bahwa perpisahan sementara ini tak akan lagi terjadi. Sekali lagi kutapaki sunyi tanpa melihat sungging senyumnya dikala lelah dalam belajar, sekali lagi ku jalani rindu dalam kesesuaian masa, entah pada saat mana kita akan bersama.

24/06/2012

My Way....

Waktu sudah menunjukkan pukul 1.25am ketika satu persatu tugas mata kuliah diselesaikan. Rasa kantuk pun telah hilang, sebab sudah beberapa kali menunda waktu tidur dengan sengaja mengazamkan diri "harus menyelesaikan tugas sebelum deadline tiba". Alhamdulillah...

Sampai paragraf kedua ini ditulis, jarum panjang telah menggeserkan dirinya ke arah angka 10 yang berarti jam 2 akan segera tiba 10 menit lagi. Tidak bermaksud memaksakan diri untuk tidak tidur, namun fikiran saya masih bekerja dan hati masih rasa bertanya-tanya pada banyak hal yang telah saya lampaui setelah 20 tahun lamanya bernafas di dunia. Saya masih terus bertanya apakah saya sudah cukup bermanfaat untuk orang sekitar saya? Selekat apa kedudukan Allah di qalbu saya? Cinta yang mana yang saya kerahkan untuk ummi, abi, dan ikhwah di sekeliling saya? 

Jarum panjang jam di dinding masih terus berdetik ketika seorang Maya Nasri berkebangsaan Timur Tengah menghantarkan lantunan lagunya berjudul Ruh. Cukup menyejukkan jiwa, namun sontak menyindir diri saya ketika dipaksa harus berproyeksi pada laku yang telah di buat. Ketika ruh akan mulai tercabut dan terpisah dari jasadnya, maka tak akan ada lagi yang bisa diperbuat di dunia, kecuali orang-orang disekitar kita menghantarkan kita pada ruang tergelap tertutup tanah, berteman makhluk tanah dan lembabnya hawa disana. Kali ini fikir saya semakin teraduk-aduk, men-stirr rasa malu yang terus berkecamuk.

Teringat laku diri, siang tadi seorang ikhwah berkata lewat pesan singkatnya, "Ukhti, coba deh doing something uncomfortable zone, hehe..."
Perkataan itu masih tersimpan baik bahkan hingga detik ini kata-kata itu masih memenuhi rongga fikir untuk dimuhasabah lebih jauh.

Benar memang perkataannya, jika saya renungkan, selama ini saya memang hidup dalam kemudahan. Allah terlalu baik, dan sayangnya saya masih jua terlena akan kemudahan itu. Mengeja akan rententan kehidupan saya, beliau memang berkata dengan sesungguhnya keadaan. Sejak kecil hingga saat ini, saya selalu hidup dalam keberlimpahan kasih sayang Ummi dan Abi, terlebih-lebih ketika Abi telah berpulang, Ummi semakin memanjakan saya dengan kasih sayang yang tiada tara. Tentu bukan konteks material semata masalahnya, sebab Ummi dan Abi saya adalah orang yang strict terhadap kesahajaan. Hal itu yang terus terbawa hingga saat ini. Ketika memasuki dunia pendidikan, Ummi adalah orang pertama yang memaklumi saya yang bangga dengan ranking ke 10. Beliau pula orang pertama yang memberikan senyuman  atas persepsi polos saya. Dahulu sekali, ketika sistem caturwulan masih berlaku, dan ketika saya mulai mengenal bangku sekolah, saya sangat menginginkan urutan ke 10 ada pada baris peringkat di buku laporan hasil belajar siswa.

Namun, ketika tahu hal yang seharusnya, maka di cawu selanjutnya saya mengejar ketertinggalan dan berusaha menghapus angka 0 disebelah kanan angka 1. Tujuan itu tercapai. Tentu atas ijin Allah. Ummi pernah bilang, saya adalah seorang perempuan tipe "goal oriented". Betul memang, saya tak akan berhenti berusaha sampai keinginan saya tercapai. Disamping itu, ada ummi yang senantiasa membebaskan saya dari pekerjaan rumah dengan tujuan agar saya bisa belajar sepanjang waktu dengan kepuasan hati saya. Tentu ini menjadi kesenangan tertinggi untuk saya, mengurung diri sepanjang waktu didalam kamar. Memang peringkat 1 itu terus berlanjut hingga saya lulus Madrasah Tsanawiyah.

16/06/2012

The Principles of Language Teaching and Learning



Language teaching and learning deal with many factors in principles. This may cause several questions related to it. Before we understand on the principles of language teaching and learning, we must know about language learning. What do we know about language learning? In outside of context any classroom, all children who are repeatedly exposed to a language will in normal circumstances learn it (Jeremy Harmer, 2002:24). Basically, the children who learn a language, they will do unconsciously rather than a form a study. And adults who learn language without studying, they will be able to use language. In one side, it will be a point that sometimes they still have more trouble in pronunciation and grammar, but at least they still able communicate fluently than younger learners.

And still in Harmer’s state, the students who learn and acquire language in outside classroom, they will share certain similarities in their learning experiences. It is caused of they are usually exposed to language that they more or less understand, and they are also motivated to learn the language in order to be able to communicate and the last they are given a chance to use the language they are learning.

Knowing the Learners and Teacher's Role



In the process teaching and learning, there are so many useful activities that we can take it from it. Everyone there has the different roles. The teacher has roles as the teacher, and the learner has roles as the learners. But, how we can know their roles? To understand more about the learners and teachers’ roles, I recently have five questions that related to it.
Actually, what are the teacher’s roles in the classroom? From Harmer’s studies about his interested to know what people responses in the topic of how to be a good teacher. These all answers can representative generally what are the teacher’s roles from their best deed in the classroom. Harmer in his book How to Teach English (2007, p 1) said that the teachers role in the classroom not only have an affinity from the teacher and the students. But, the teacher also has many roles others. In one side from his study about this topic, said that the teacher also has role as an entertainer in positive sense, not in negative sense. In other words, the teacher can make the students enjoy being entertained and amused (p.2). Still in his book, the teacher also should become parent and friend for their leraner. Here, the teacher is demanded to be a person who love their students like as the parent to their children. But, in the other side, the teacher are also demanded to be a nice friend to their student who can be empathy to their friend’s problem.

Report of Teaching Reading and Writing


Language teaching deals with many aspects interactive and integrated approaches to emphasize the relationship of skills. We must know that reading ability will be developed best in association with writing, listening, and speaking activities. Even the labelling “Reading” skill must be interrelationship of skill especially in reading-writing (Brown, 2002:298). Based on my reading of that book, I have to put forward five questions for it.

My first question, I propose the question about how the research on reading in second language, particularly in bottom-up and top-down processing. To answer my question, I red a book by Brown (2002), he wrote that research on reading in second language was almost nonexistent in the 1970s. At the time, the research about first reading had been flourishing to find why some children could not read. Then, after three decades, the research reveals some significant finding for teaching reading in second language.

Learning through Stories


In learning language, there are some approaches to make the children as learners gather the target language. One of the approaches is through a story.  Cameron (2001) said that stories as the holistic approaches to language teaching and learning. And to answer some question about learning through stories, I try to hold a Cameron’s book as a basic knowledge about that.

For the first question that was proposed; do you think stories can be used to help children learn English? In this case, I fully believe that stories can be used to help children to learn English. We can know how important and useful the use of stories by analyzing from the examining the text in the story and analyzing the discourse organization of stories, and also the language that is used in the stories. In learning English through stories the process involving and even improving the students’ skills. Here, like as story telling is an oral activity and it has a shape they do because they are designed to be listened to and participate in. And as we know, in oral activity there are two process; receptive skill and productive skill. For the example in the class situation; the teacher bring a book story to the class, then s/he tells a story to the children by using English. When the teacher tells the story and the students pay attention to it, it was a process of receptive skill. And after that, when the teacher doing communicating to the students by asking e.g “than, what happen next” or even asking them, “Who is wear the red gloves?” it evokes the students to answer and speak in English, and it is a productive skill. In other case, the teacher can use other words that have same similar consonants (alliteration) to make the students learn the new words in English. From these my arguments, I believe that stories can help the children to learn English. Wright also adds that stories are frequently claimed to bring many benefits to young learners (1997), while Bettelheim said that stories can serve as metaphors for society or for our deepest psyche (1976).

13/06/2012

Waiting Time

Menunggu satu hal yang harusnya pasti, tapi kini malah menjadi mengawang-awang. Setengah jam dalam perjalanan berharap I will be the best in the presentation at 3pm. Hufft.. It may be only a hope, because until this time, there is no people others, except me and 1 of my friend.

Waiting for the another time...

Until 3.45, there are no people except us. So, my question is, jadi gak sih, saya kan udah siap banget nih mau presentasi... :( --masyaallah, takabur banget deh--
Padahal udah baca postingan seseorang tentang kiat menghalau nervous, ya Rabbi...

Hhh...Jadi, ayamku??? eh, Jadi, nasibku???

07/05/2012

Fase Hidup

Terkadang saya berfikir bagaimana agar bisa melangkah pada anak tangga kehidupan selanjutnya bila hati merasa stagnan dan cara berfikir telampau apatis. Hampir hilanglah kesabaran dan muncul keputus-asaan tentang hidup ini, akankah wafat dalam kehusnul khatimahan? Allah ya Rabb... Faghfirliy..

Saya tak ingin tanyakan kenapa sakit ini terus bersemayam dalam jiwa, dan mengapa hanya sebagian kecil orang yang merasainya. Dan saya, adalah termasuk dari mereka. Sekali lagi, tak ingin saya tanyakan itu. Tapi tiap kali berdiam diri, sepi menjambak-jambak hati untuk terus terperosok dalam jurang tanya mendalam, Allah apakah sakit ini tak akan kunjung sembuh hingga ajal menjelang masa?

Kata tiada ku ucap pada siapapun jiwa, baik shahib terdekat, apalah lagi pada ibunda dan keluarga tercinta. Biar Allah menjadi tempat mengadu segala problema. Tapi, jika masa begitu terasa berat dan beban sudahlah memuncak, hanya air mata yang tumpah dalam peraduan. Sakitnya teramat sangat, bahkan aku takut mati dalam kesakitan itu. Ya, aku takut menjumpai Allah dan terputus ajal ketika aku merasakan sakitnya sakitku. Sebab aku tak mau Dia melihatku dalam keadaan tak lagi cantik menikmati dan mensyukuri hidup.

Ya Allah, semakin hari semakin menjadi. Sakitnya memang melebihi rasa semayam duri dalam daging. Apakah kiranya ini yang menjadi momok stadium akhirku. Aku tak tahu. Dokter dan obat bukanlah cinta yang menyembuhkan. Tapi yang kubutuh hanya sebuah nasihat yang menyejukkan.

Ya Allah, hingga umurku menjelang 20, tak satupun jiwa yang ku ijinkan tahu tentangku. Biar cukup antara Kau dan aku, kita jalin cinta lewat itu. Yang ku ingin kini, pengasingan diri dan menjalin cintaku pada-Mu yang telah lama robek lewat dosa-dosa dilatasi waktuku. Semaian benih cintaku, masih lama tumbuh hingga ia berubah menjadi mahabbah tak terbeli dunia. Ya Allah, Isyfali...

Sudut ruang disaat sakit itu sungguh merasuki jiwa

16/03/2012

Abi, Ummi, Tarbiyah Kami dengan Cinta

Bismillahirrahmanirrahim...

"Memang begitu jalannya, ada resah dan gelisah ketika hati terpaut pada yang bukan ahlinya."

Jika diresapi, kalimat ini akan sampai ke relung hati bahwa mengagumi dan mencintai sesuatu dengan berlebih akan menghasilkan kekecewaan di kemudian hari. Apalagi bila orientasnya bukan karena Allah, siapa nak sangka bahwa kebaikan akan datang di masa selanjutnya. Lebih-lebih, bila apa yang diperturutkan adalah nafsu yang menjelma semakin menjadi. Pada Ummi, Abi, Akhi wa Ukhti , bahkan pada sahabat yang senantiasa disisi, tentu tak layak bila cinta terpompa penuh dalam hati. Batasannya tentu adalah kewajaran dalam bersikap dan jernih dalam bertindak. Namun tentu sering kita lena, batas manakah itu? Tentu batasannya adalah cinta kita pada mereka karena landasan cinta pada sang empunya cinta, Allah Rabbul Izzati.

Tahulah, bila segala sesuatu yang berlebihan pun tak baik dalam syari'at. Bahkan pada hal yang dipandang baik sekalipun. Cinta pada ummi dan abi adalah sesuatu yang mesti ada dari sang walad, cinta pada ikhwah pun sama. Pun Cinta sang orangtua pada anak-anaknya, terlihat pasti tapi belumlah tentu. Lagi-lagi kita sering alfa bahwa mereka pun hanyalah manusia berbatas. Bila tak kenal betul dalam memilih cinta dan memberikan kadarnya, menjadi miss-orientation dalam hidup di dunia adalah keniscayaan. Jadi, hendak bagaimana mengatur kadarnya?

13/03/2012

Lingkaran Cahaya *haLaqah*

Bismillah...

"Tiit..tiit..tit..tit"
Sore itu ringtone SMS Hp saya memecah keheningan, dengan segera saya melepaskan buku yang sedang dibaca untuk segera membuka pesan dalam sms. Rupanya salah seorang adik tingkat saya (pada sebuah kelompok mentoring) mengirimkan sebuah pesan bernada pertanyaan apakah saya telah memeriksa email yang berisikan foto-foto yang dikirmkannya pada saya satu hari sebelumnya. Hmm...saya bergegas untuk membuka e-mail dan mengeceknya. 
And OK, I got it. ^_*

Ketika itu saya tersenyum sendiri bila mengingat bagaimana pertemuan saya dengan adik-adik saya pada sebuah mentoring kampus. Dari sanalah kisah ukhuwah kami bermula dan terjalin dengan indah hingga saat ini.

Pada satu masa, saya diamanahi untuk memenej mentoring pada sekumpulan mahasiswa Pendidikan Agama Islam UPI. Fikir saya, ini akan menjadi amanah yang sangat berat. Tentu masalahnya bukan pada materi yang harus saya berikan pada  mereka dalam kelompok mentoring tersebut. Sebab, siapapun orangnya -siapapun murabbinya- pastilah mampu kalau hanya memberikan materi. Masalahnya, bagaimana bila ilmu tersebut hanya cukup tersampaikan tanpa memberikan efek positif? Wah, dengan mengharap bimbingan Allah, saya mantapkan keyakinan dan membulatkan tekad untuk memperbaiki kondisi ruhiyah yang kadang waktu bisa saja gonjang-ganjing. Bismillah, saya terima amanah tersebut. 

(salah satu pertemuan mentoring)

Sebenarnya ini bukanlah pengalaman kali pertama saya untuk mengelola mentoring akhwat di kampus. Sebelumnya memang pernah diamanahi, tapi karena satu dan lain hal, kesempatan itu tak terlaksana dengan baik. Sebenarnya sih ada faktor ketidak siapan yang mendominasi. Hehe.. maklumlah, waktu itu saya mengira belumlah cukup ilmu saya untuk di-share mengingat lama hidup saya yang baru menginjak semester ke-3 di kampus ini. Namun untuk kesempatan kedua ini, sejujurnya saya hanya bermodalkan niat ihsan dan ikhlas serta keyakinan bahwa saya ingin melakukan yang terbaik untuk berdakwah lillah melalui kelompok mentoring kali ini. 

Kesempatan ini saya gunakan untuk sebaik-baiknya membaca buku-buku suplemen mentoring. Setidaknya penguatan mental untuk menjadi calon murrabi iu sangat perlu. Alhamdulillah, di Indonesia ini banyak bertaburan buku-buku suplemen mentoring, macam suplemen kesehatan, penguatan ruhiyah itu lebih prioritas pastinya. Akhirnya, buku-buku semisal Tegar di Jalan Dakwah dan Menyongsong Mihwar Daulah karya Ustadz Cahyadi Takariawan, Jalan Cinta Para Pejuang dan Dalam Dekapan Ukhuwahnya Ustadz Salim A.Fillah, Menghidupkan Suasana Tarbawi di Mihwar Muasasinya Ustadz Hadi Munawar menjadi lebih sering menemani saya sebulan menjelang mentoring berlangsung. Tapi yang paling sering menjadi buku saku adalah sebuah buku berjudul "Menjadi Murabbi itu Mudah". Hehe.. macam menguatkan keyakinan gitu bahwa I can do the best for dakwah ilallah. Pokoknya i'tikad saya kali ini, saya tidak hanya ingin menyampaikan ilmu, tapi juga sampai pada pembinaan ukhuwah dengan berlandaskan kecintaan pada Allah. Semoga Allah memudahkan.


~Taking pictures saat mentoring wada ^_~
(from L-R, Up: Yunita, Erni, Aini, Nurrahmi, Humaira Kartika, NurLatifah
Bottom: Rosita, Widya, Maurita, Fitri, Hana)


Next story, jadilah kami berkumpul dalam satu lingkaran, -kalau murrabbiyah saya sih suka menyebutnya sebagai lingkaran cahaya, hehe ^_~

Sekian pekan kami jumpa, rupanya Allah kabulkan doa saya, mungkin lebih tepatnya kami. Lebih dari apa yang saya inginkan, Allah memberikan cinta yang tumbuh dari kian waktu pertemuan yang kami buat. Rupanya, pertemuan kami tak terhenti sampai disana. Mereka (mutarabbi saya) memutuskan untuk melanjutkan proses mentoringnya pada jenjang yang lebih khusus dengan waktu yang kami sepakati. Ya Allah, bukan main riang hati ini ketika mengetahui kabar tersebut. Itu artinya mereka akan lebih dalam mempelajari ilmu Islam lewat liqa/halaqah dan akan ikut bersama meramaikan dan mengisi ruang suasana tarbawi ini. Bak gayung bersambut, saya segera menyepakati hal tersebut, mengatur waktu sesuai dengan irisan waktu luang kami untuk bersama-sama duduk dalam lingkaran cinta dimana didalamnya kita mengais ilmu Allah bersama, saling belajar dan mencontoh lewat pribadi-pribadi teladan, saling menyantuni lewat perbedaan pendapat, dan banyak lainnya lewat lingkaran cahaya. 

Semoga Allah menautkan hati-hati kami pada kecintaan pada-Nya serta menjaga keistiqomahan kami hingga akhir hayat menjemput maut. Terimakasih Allah yang telah mengijinkanku mengenal dunia tarbawi ini. Juga terimakasih adik-adikku -ikhwati fillah-, bersamamu kuharap gapai ridhanya.

Semoga Allah ridha atas apa yang kita perbuat... Senantiasa mendoakan dalam kebaikan dan kesabaran. ^_~

24/02/2012

Bidadari-Bidadari Surga

Setelah sekian hari berjuang setengah hidup memanfaatkan sekian waktu yang panjang untuk membaca diktat-diktat kuliah dan duduk berfikir untuk menuangkannya pada sebuah tulisan lewat bantuan laptop ini, akhirnya Allah berikan waktu luang lainnya untuk saya bisa menuliskan tentang ini. Hmm, hari-hari itu benarlah menjadi hari yang berat untuk saya karena harus mengerjakan banyak sekali tugas kuliah yang padat dan pada jarak yang berdekatan pula. Tapi rupanya Allah berikan kenikmatan tiada tara setelah semuanya dilakukan dengan mencoba ikhtiar terbaik, alhamdulillah ya Allah... 


Empat hari berawal Selasa, saya menghabiskan hampir semua buku bacaan wajib berbahasa inggris all the time. Kalau boleh dikeluhkan, semuanya memang sangatlah berat. Buku-buku ini semua didatangkan dari negeri asal bahasa yang saya pelajari, Inggris. Selain dengan isinya yang bisa dikatakan tidaklah sekali baca langsung bisa dimengerti, kurikulumnya pun luar biasa dengan kombinasi rasa yang membuat otak memeras fikirnya. Tapi lagi-lagi Allah memang luar biasa, jika dijalani dengan ikhlas, alhamduliillah akan terasa lebih mudah. Hingga pada akhirnya, tibalah saya pada hari ini. 

Alhamdulillah, saya masih punya sedikit waktu untuk bisa menuliskan bait-bait cerita hidup untuk berbagi. Sebelum esok jumpa lagi dengan hari-hari yang luar biasa itu, saya sempatkan diri dulu untuk bisa mengisi blog saya ini dengan tulisan sederhana.

Sekarang, nak tengok kisah saya ini. ^_~

18/02/2012

Tentang Ukhuwah


(taken from: google image search)
Ukhuwah itu seutuhnya tentang rindu,
Yang membuat selalu tak sabar untuk bertemu,
Membuat terasa rugi jika tak berbagi.

Ukhuwah
Adalah tentang hati yang terikat,
Tentang doa-doa yang saling bertaut

Ia terasa sulit untuk dijabarkan dan diungkap,
Namun nyata dalam kata sederhana
Ia begitu dalam tuk diselami,
karena ia adalah iman berupa makna


Semoga Allah senantiasa mengikat hati-hati kita,
Saling mendoakan dan memberikan semangat.

Karena Allah,
Ukhuwah itu terus terbina,
Merentas masa tiada batas,
Bahkan abadi hingga menuju syurga.


*short message from one of my friends
Uhibbukum fillah ukhti... ^_~

Hifdzhil Lisan

Bismillahirrahmanirrahim...


"Allahummaghfirlii dzunuubii..."


Seketika malam menjadi begitu sedikit mencekam dan dingin yang semakin menusuk, sebelum menjemput tidur, saya sempatkan untuk menulis bagian kisah hari ini yang semoga bisa diambil sebagai hikmah. Dengan masih ditemani oleh Robbun Siwahnya Dai Nada, lagi-lagi hanya Allah-lah yang dijadikan tumpuan atas segala hal.
Semoga kita senantiasa dalam ingatan kepada banyak nikmat-Nya yang tiada terhingga.


Teringat percakapan dengan seorang sahabat laki-laki dalam sebuah net sosial. Ketika itu dia berkata dengan sebuah statement yang membawa nama seseorang sahabat perempuan kami dan nama seorang laki lain yang diduga sebagai kekasih dari wanita tersebut. Saya fikir itu hanyalah sebuah statement biasa. Saya padankan dengan komentar saya dengan mengatakan, "jangan buka kartu orang lain ah, tak baik tu". Sahabat saya menjawab dengan mengatakan, "lebih baik terang-terangan daripada sembunyi-sembunyi". Lantas saya hanya memberikan sign ':)' sebagai tanda bahwa itu cukup. Dia pun tidak memberikan komentar lagi.

Rupanya, satu jam kemudian...

Saya melihat postingan "lebih baik terang-terangan daripada sembunyi-sembunyi" dari sahabat saya telah dihapus dan justru yang ada adalah sebuah permintaan maaf untuk sang sahabat perempuan kami. Saya pun  kaget luar biasa dengan kekhawatiran yang mendera, tak fikir panjang bahwa saya pun harus meminta maaf padanya.

Apa pasal?


Ternyata sebelumnya, seorang sahabat perempuan kami (yang menjadi objek perbincangan) telah memberikan statementnya dengan bercampur nada emosi. Kurang lebih saya tuliskan seperti ini, "Tolong jangan berikan komen yang menggunjing ya, pantas saja telinga menjadi panas". 

14/02/2012

Segala Tentangmu, Aku Cinta

Bila waktu menawarkan padaku untuk dapat bersanding dan berbincang kata denganmu,
kan kuhulurkan tangan dan kuanggukan kepala tanda setuju.

Bahkan kiranya mata terpejam sedang hati bicara, aku akan mintakan pada Allah
agar aku bisa bersua denganmu dalam kejapan waktu.

Dengan segala hal yang ada padamu, menjadikan aku begitu cinta
Aku cinta bagaimana kau memandangku,
Aku cinta caramu ketika memanggil namaku,
Aku cinta jalanmu ketika bercakap denganku,

Engkau begitu lembut dengan cintamu,
Yang semakin menjadikan cintaku bertambah sekian waktu untukmu
Bahkan bila bilangan hari memintaku untuk memintal cinta-cinta yang telah terurai,
Tak kan ku biarkan dia terulur kembali dan menariknya darimu,
Sebab aku cinta

Tahukah kau,
Dalam diamku, bukan karena jauh yang kutuju
Namun ku pendam kerinduan dengan shahihnya waktu untuk ku ungkapkan rasa hati ini padamu
Agar shahih cinta yang kupunya,
Sebab ku tahu bahwa kau pun begitu mencintaku dengan seshahihnya cinta.

Diam-diam, kupandangi wajahmu dari kejauhan
Berusaha mengingatmu dalam sekian jarak kita terpisahkan
Ku raih segala yang kupunya bersamamu,
Dan ku yakin bahwa kau pasti tahu,
Terlalu banyak hal yang ku cinta darimu

Kau tahu,
Cintamu yang sangat merapatkan cintaku semakin menjadi
Tak kan ku lukiskan dengan perumpamaan apapun
Sebab cintaku terlalu luas untukmu

Hingga saat ini aku menanti dengan mahabbah rindu yang begitu sangat
Aku akan senantiasa menunggu waktu dimana ada sebuah kesaksian cintaku padamu
Agar kau yakin bahwa aku tulus mencintaimu

Aku mencintaimu dengan cinta yang sesungguhnya,
Kan ku jadikan kau sahabat dan cinta yang kekal untukku di yaumil akhir nanti,

Wahai Ibu...
Tahukah kau,
Segala tentangmu aku cinta 

11/02/2012

Happy Milad

Selamat menjumpai hari lahir untuk seseorang yang baik hati di kota Tangerang sana. 

Ehm.ehmm.. (Checking Voice)

Dua hari yang lalu sadar betul bahwa ada great moment di tanggal 11 Februari. Entah kenapa, waktu sore di tanggal 10 memorinya kehapus semua. Entahlah, mungkin virus nakal atau jelmaan jin yang membawa lari tuh memory. (Hahhh.. Biasa, suka berlebihan). 

Fortunately (Thanks to Allah), tadi malam jam 00.03 si Nokianya Hikari berguncang dan berteriak pelan, sontak aku kaget dan melepas semua bahan bacaanku untuk segera menjenguk si Noki, khawatir terjadi apa-apa dengannya. Oh my God, when I saw it, ada sebuah tulisan yang mengingatkanku akan hari lahirnya seseorang. Oh, how to be forgetful person I am! Langsung deh kirim pesan ke objek untuk sang empunya tanggal spesial di 11 Februari ini. 

Ehm.ehm.. (need some water nih)
Tentang isinya? Untuk yang satu ini mesti dan kudu di sensor dong. It was my privacy, right?!

Konon kabarnya, sang objek pernah mengatakan bahwa sebenarnya beliau juga bingung akan tanggal sebenarnya dia dilahirkan. Oh God... No! Kenapa tidak tanyakan langsung saja pada rumput yang bergoyang. 
But, whenever you were born, I always beg to Allah to give the best thing for you. (ini serius lho, bukan candaan).

Ok, Fine!! Nak tengok sejenak sape jiwa yang sua dengan harinye (kata orang Malaysia kalo lagi ngomong dengan gaya Melayunya)

Tara...........ini dia....!!! :) :) :)


Ow.ow.ow.. Upss, ini pasti kesalahan teknis. Bukan yang itu, tapi yang ini...


Nah, beliaulah orangnya. Ok Deh, selamat Milad Aa. Semoga Allah melimpahkan banyak keberkahan-Nya untukmu. Just to think and feel positively. Insha Allah you will kept on fine. :) Maaf ya A, gak bisa gifting-giftingan, soalnya lagi awal semester nih, jadi si money lagi ditukerin sama buku kuliah. Hehehe..

Hope fully to see you again in the best time. Really miss your voice and kidding...

08/02/2012

Kunjungan Habibie ke Garuda


by Nur Hayati Bening on Thursday, February 2, 2012 at 10:44am
Berikut ini postingan menarik yang bisa menginspirasi kita semua untuk selalu bekerja keras dengan hati untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik. Sekedar share. Oh ya artikel ini saya dapat dari milis tangandiatas, yang kemudian saya pos ke website untuk berbagi dan mengisnpirasi kita semua. 
Source : http://brosurkilat.com

Kunjungan BJ Habibie ke Kantor Manajemen Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-

escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan..................

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu..............saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan.................“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, .......itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur.........Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,............anda semua lihat sendiri..............N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu................di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia.............

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa................

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua.....................?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas.......................

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama.................

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu.........bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir.............kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***
Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya....................

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

? Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik.............organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik..................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ...........................

“Dik, ..........saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ...........ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya............saya mau kasih informasi........... Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu........................”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam.............................seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan........................

“Dik, kalian tau.................2 minggu setelah ditinggalkan ibu............suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu......... Ainun......... Ainun ................. Ainun ..............saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini..............’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus...............3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga............................”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) ...................... ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun..............dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia.............

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat............. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata..............................

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.....................

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang..... (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu............semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif...................”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo



Source : Kaskus

03/02/2012

So Many Kind People around Me

Oh Allah, thank you for Your Blessing the day.
One day, I heard the one say: "The one's wrongness from thing may be conducted from their unknowing about the problem and no one besides them to remind them."

He remind me about something, my self in felt behind from others. Yes, one side  I think I was in prior in thing. Yet, in other side, I think I very very felt behind from others. It is complicated for me.
I was not blame one in this case, but now I aware fully that all decisions to success is in my hand.

So many kind people here, where I live. I will not ask why I felt behind? I do not want to say that I failed. I just wake up from the silence and correct my fault in the past to be better and be the best in the future. Yes, I could not blame anyone here except me. Because, so many people that motivate me to be success, directly or not.

It is my decision to wake up or stay. It is my verdict to do something useful. It is my time to speak.

May be it is about little thing for someone, but it is a big decision for my successful.

Now, I want everyone know that I am here, I am Exist, and I can compete with you.
I prove it!