::> Mengkritik tidak berarti membenci, menyokong tidak semestinya sefikrah, berbeda pendapat adalah sebaik-baik teman berfikir <::

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

04/10/2012

Cross-Cultural Conflict and Adjustments


Newcomers from different country and culture seem often feel strange to face something (culture) new. It seems as a battle in their inner selves to know the diversity of their own culture with new culture. In other words, we can match it with the term of cross cultural conflict that happens in newcomers. In other time, newcomers might do adjustment to the new culture. From that background, the discussion that related with cross cultural communication and adjustment will be divided into five parts.

28/09/2012

Cross-cultural Contact with American



American, in its term might be defined from how long of time they spend their live in United Stated. Actually we need to analyze further more about definition of American, because sometimes it term makes confusing. In many cases caused of the type of American and continent of America, the use term of American just for represents or labeling someone who lives in United Stated, all at once makes easy the use word American, not United Statesian.

26/09/2012

Akhirnya Aku Jatuh Cinta

Ya Allah...
Akhirnya aku jatuh cinta.
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta, dimana hati selalu rindu, dimana hati selalu menuntut waktu mebiarkan kami bersama meleburkan kesenangan bersama. 




Oh Allah....
Akhirnya aku jatuh cinta,
Pada pencarian yang telah lama menyulam waktu hingga ia tak terbaca
Oleh lamanya masa dan bertumpuknya dosa
Dan ketika "cinta" itu menyapa
Kurengkuh ia dengan senyuman

24/09/2012

Not Only Dreams "in and for "the World


"Dek, kapan rencana menikah?" 

Pertanyaan itu menjadi sangat menggantung tanpa jawaban ketika ummi menemaniku makan malam. Sebenarnya sangat tak berselera membahas tentang itu, tapi rupanya hal itu dianggap perlu oleh keluarga, khususnya ummi. Kujawab dengan senyuman dan olokan, "Ummi, adekan baru umur 21 tahun, masih jauh to dan belum terfikir matang".

Jauh dilubuk hati, aku mencoba merenung lebih dalam. Rupanya betul, fikiran tentang pernikahan adalah hal tabu buatku. Sedangkan ummi menjadi sangat khawatir diusianya yang senja tak dapat mengantarkan putri bungsunya hingga pelaminan. Ah Allah, padahal itu hanya tentang masa dan kesempatan. Bisa saja tanpa menikah pun ajal akan bersegera menyelaku.

Erasing The Last 40 Days Memory

Someone said, "We do not have to forget our memory. It's mine and will be mine forever. Just keep it."
I do not really know about the meaning. Because, my condition might be different with his condition. Might be he has the memory so good in so far he runs, but not contrary with mine. I also have so many meaningful journey in last 40 days. But, sometimes there are so many obstacles that demand me to erase the memory.


It is about heart. Yes, just about love.

30/08/2012

1 Day Lefts


Dua hari indah saya bersama keluarga besar tersisa satu hari saja. Alhamdulillah, dari sekian perjalanan panjang menginginkan kebersamaan bersama keluarga, pada tanggal 29 pagi sejuknya udara Desa Batujaya, Karawang saaangat terasa. Dalam balutan kabut dan hangatnya mentari pagi, saya sempatkan untuk meminta ijin pada Ummi untuk sekedar berjalan-jalan di pematang sawah. Bertemankan embun yang dingin, rona kebahagiaan dan syukur pada Illahi begitu lekat menemani. Ya, sebab sangat jarang -bahkan, tidak bisa- saya temui pemandangan seperti ini di tanah kelahiran saya, Jakarta. Dalam 6 bulan sekali, barulah saya berkunjung ke Desa tempat Abi dan Ummi mengelola perkebunan dan persawahannya.

27/08/2012

My Beloved Nephew and Niece


Lav Reid, Perth

Pada pagi yang sejuk dan menyejukkan…

“Ammah, ‘ncing, apa kabar, baik? Kapan sih pulangnya, kue lebaran kita udah abis lho!”

Penggalan kalimat itu masih terngiang jelas di telinga. Suatu pagi yang indah ketika nephew-nephew menghubungi saya dikala sibuk berpacking-ria untuk kepulangan ke tanah air besok. Mereka “mengeroyok” saya untuk bisa membuat saya iri akan keadaan dirumah, ya pastinya mereka sedang berkumpul dibase camp tercintanya, dirumah Ummi. Ada rindu yang melejit dihati saya, rindu akan senyum nakal mereka, rindu songsongan tangan mereka setiap kali saya kembali ke rumah, rindu tangis mereka dikala saya perlu mengunci pintu kamar untuk menghindari serangan dan gangguan mereka dari mengacak-ngacak kamar saya. Ah, mereka, sang ajudan kecil harapan mamah, bunda, dan ummi mereka. Semoga dewasa menjadi pribadi shalih yang meneguhkan dan menyalihkan.

Saya merindui sang tampan, lembut  juga shalih; Muhammad Abdul Lathif –cucu laki-laki pertama ummi- yang tak pernah melakukan sesuatu tanpa ridha mamah dan ayahnya. Penurut, pecinta pada adik-adiknya. Diawal saya tak pernah kira bahwa ada seorang “ikhwan kecil” yang begiitu perhatian kepada semua sanak familinya, tak pernah mendahulukan kepentingan pribadinya sebelum saudaranya diutamakan. Anak yang selalu membantu mamahnya didapur dan mengurus adik-adik perempuannya dikala luang dan libur dari pesantren. Juga dengan adik-adiknya, tak pernah saya dapati mereka bertengkar, bahkan saling memahami dan meng”ia”kan. Padahal usia sebaya mereka adalah masanya mengedepankan ego pribadi. Dik, ‘ncing banyak belajar dari kalian.

Tentang “ikhwan kecil” lainnya?

23/08/2012

Eid Fitr Mubarak


Perth, August 19th 2012

Allahu-akbar, Allahu-Akbar, Allahu-Akbar…
La ilaaha illallah wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillah alham(d)...

Gema takbir hari raya disini memang tidak tidak semembahana seperti di Indonesia, namun meresapinya dalam kesendirian menjadi begitu menyejukkan. Setelah membereskan dan menata apartemen yang saya tinggali, jelang jam 3 pagi saya bergegas kembali ke sebuah Masjid terdekat yang ada di daerah sekitar saya tinggal. Masjid yang kecil, tapi sangat nyaman dan nazhif untuk berlama-lama didalamnya. Jaraknya sekitar 3Km dari rumah saya tinggal. Pagi itu juga, saya memaksakan diri mengendarai mobil ke Masjid tersebut. Sebab sangat tidak nyaman berjalan seorang diri di pagi buta, apalagi seorang perempuan. Sebuah kesulitan tersendiri bagi saya karena harus mengendarai mobil yang memiliki stir di sebelah kiri, hal ini memang sangat berbeda dengan mobil-mobil yang ada di Indonesia. Tapi apa boleh buat, kekhawatiran saya menggapai Shalat Eid berjama’ah akan terlambat semakin kuat, disamping itu saya tak mungkin membangunkan tetangga pada jam-jam tersebut hanya untuk meminta diantarkan ke Masjid. Berbekal yakin pada Allah dan sedikit kepercayaan diri dari bekal mengemudi di rumah, akhirnya dengan Basmallah sampai juga saya di Masjid yang memiliki Imam Masjid seorang Imigran Indonesia. Jam 4.00am, saya sudah terhanyut dalam nikmatnya bertakbir dan bertahmid. Dalam mata terpejam, tiada beban, tiada kegamangan. Allah ya Rabbiy

Shalat Eid Fitr berjalan dengan sangat tentram dan tartib disini, meskipun bukan Negara mayoritas penganut agama Islam, kerukunan dan toleransi yang tinggi sangat nampak di Australia. Lama punya lama, akhirnya saya jatuh cinta pada Australia.

Pukul  8.00am

Dalam perjalanan pulang ke rumah saya dapati jalan-jalan ramai dengan hiasan kerlipan bintang dan bulan. Entah apa maksudnya, mungkin saja dimaksudkan untuk meramaikan Eid Fitr Mubarak dengan gaya berbeda seperti di Indonesia, mereplasikan hiasan ketupat yang bergantungan di angkasa raya alam Indonesia. Teringat malam tadi dalam perjalanan kerumah dari Masjid Raya, dua orang polisi –sorang Kristiani, dalam jam luangnya- menabuh genderang beriramakan takbir lebaran, meskipun tanpa lirik takbir dan tahmid, gerak ghirah mereka dengan sunggingan senyum kebahagiaan diwajah menjadikan saya ikut larut dalam kebahagiaan dan tanpa sadar ikut bergabung dan menyambangi mereka. Ah Rabbi, seperti inikah bila alam berharmoni dalam perbedaan yang terbaca, bila manusia tak lagi mementingkan ego duniawi dan kebersamaan menjadi sebuah keselarasan. Allahu Akbar..

Pukul 10.00am

Bersendirian...


Perth, August 18th 2012

Pukul 9 pagi ini saya akan melepas kepergian 8 utusan Indonesia yang 2 hari terakhir telah menjadi kawan dekat bahkan menjadi keluarga yang menghangatkan sepi dan rindu pada keluarga sebenarnya di tanah air. Kawan-kawan yang berasal dari Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Lampung, Medan, Aceh, Madura dan Palembang telah bergegas untuk kembali ke kampung halaman untuk merajut raya Eid Fitr Mubarak bersama keluarga. Pemerintah memberikan waktu kepada kami untuk bisa beraya bersama keluarga di tanah air. Namun, kesempatan itu tidak bisa saya ambil oleh sebab beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya. Akan butuh waktu untuk saya menata hati jika menatap ibunda untuk sedikit waktu kemudian meninggalkannya H+1 setelah hari suci itu. Saya hanya berusaha menguatkan azam untuk hidup dan berfikir mandiri dan –sebenarnya- berusaha bersikap dewasa. Hanya saja kadang keinginan untuk kembali dan bertemu ibunda sungguh menggebu. Keputusan saya ternyata didukung oleh seorang kawan yang juga seorang leader saya disini. Beliau menyatakan untuk menemani saya di Australia meskipun pada kota yang berbeda. Saya di Perth, dan beliau di Sydney. Dia berkutat dengan penelitian skripsinya tentang aplikasi bahasa terhadap efeksi gender di Australia, sedang saya hanya ingin spending time di Perth.

My Exciting Journey in Sydney


Pagi setelah melakukan upacara kemerdekaan di Gedung Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia, Sydney, seorang leader sekaligus Duta Pendidikan dan Budaya Indonesia menyertakan saya untuk berjalan-jalan di kota mewah ini. Mewah? Yup, karena kota ini begiiiitu mahal. Hehe..

Sila simak kisah saya ni…!

Jarak dari Perth -tempat saya tinggal selama di Australia- ke Sydney sekitar 3 sampai 4 jam lewat perjalanan darat. Itu pun kalau di tempuh dengan menggunakan bis sebagai akomodasi utama di kota ini. Kalau mau ditempuh lewat berjalan kaki pun, tak apa. Cuma pastinya saya tak mau coba. ^_~

Perth, sewaktu menginjakkan kaki di kota ini, semua panoramanya begitu memesona, memaku emosi jiwa, dan menegunkan benak khayalan. Kabarnya, Perth memang salah satu kota yang sangat ramah alamnya, sebab bila dibandingkan dengan Sydney atau Melbourne, di Perth tentu lebih banyak kita temui hamparan pemandangan alam membahana. Biaya hidup di kota ini pun tidak semahal di Sydney atau Melbourne yang mana earn pegawai hampir setara dengan pengeluaran untuk kebutuhan hidup sehari-hari, meski memang tidak bisa dikatakan murah bila dibandingkan dengan biaya hidup di Indonesia. Maklumlah, Australia adalah Negara teraman dan ternyaman dalam urutan ke-2 di dunia. Indonesia? Ratusan…:)

Alhamdulillah, Allah tempatkan kami, kandidat Indonesia untuk tinggal di kota Perth, berbeda dengan Negara-negara Asia tenggara lainnya seperti Malaysia yang ditempatkan di Melbourne, Singapore di Sydney, dan lainnya…entahlah, saya masih sulit menghafal nama-nama kota di negeri ini. 

Untuk upacara kemerdekaan Indonesia kami semua para duta Indonesia berkumpul di Sydney. Satu jam untuk melangsungkan upacara, dan satu jam lagi untuk menonton bersama acara upacara kemerdekaan yang di adakan di Indonesia. Haru sekali saat itu… Hmm, di Australia, untuk elemen perangkat upacara kemerdekaan ternyata melibatkan para pelajar dan mahasiswa Indonesia yang mengais ilmu di negeri ini. Subhanallah…

Syukur Tiada Hingga


Subhanallah, Walhamdulillah, La ilaa-haillallah, wa Allahu Akbar!!!

Subhanallahil Adzhim, 9 jam yang lalu tiba di Perth International Airport setelah menempuh 4 jam waktu penerbangan dan ditambah dengan sekian jam perjalanan untuk sampai pada hotel yang indah ini. Ya, Oslo Paradise.

None words, just Alhamdulillah wa Subhanallah.. menetes air mata ini karena nikmat Allah yang tiada terhingga. Kesempatan yang tidak biasa dan sangat luar biasa. Inilah perjalanan pertama saya menjadi salah satu kandidat Duta Pendidikan dan Budaya Indonesia yang dikirim ke Australia beserta 9 orang sahabat mahasiswa lainnya. Awalnya saya tidak akan pernah menduga apalagi berharap lebih ketika menyodorkan sebuah karya tulis tentang profil pendidikan di Indonesia pada sebuah instansi dimana saya terikat kontrak kerjasama dalam hal pendidikan, hanya apply kemudian beberapa hari selanjutnya salah seorang ketua pelaksana menelpon dan meminta saya untuk melakukan tes wawancara. Kesempatan yang saangat tidak saya duga. Semua itu terjadi ketika masa KKN berlangsung.

Rupanya Allah limpahi masa-masa KKN saya sebagai masa penuh tarbiyah di segala sisi. Mulai dari bagaimana bermuamalah dengan masyarakat, memperbaiki akhlaq pribadi, meneladani akhlaq seorang “Abdullah” yang shalih, menyayangi sahabat sesuai dengan kadar kecintaannya, dan baaanyak lagi hal lainnya. Actually, it’s very AMAZING… Nah, buat saya masa 10 hari di Australia ini adalah masa KKN indah kedua setelah Karanganyar, West Bandung was the End.

Nak buat apa disana?

Perth International Airport

Alhamdulillahil Adzhim, tiada kata lain terucap selain rasa syukur penuh haru karena Allah telah ijinkan saya sampai di negeri Kanguru ini. Alhamdulillah, setelah menempuh jarak penerbangan Jakarta-Perth selama 4 jam, tibalah kami di negeri yang kabarnya orang Muslim dan Non-Muslimnya hidup damai berdampingan. Entahlah, yang jelas saat ini hanya ada rasa gembira dan luar biasa ketika mimpi-mimpi itu satu persatu terwujud. None words, just feel very thanks Allah. Teringat perkataan seorang bijak, Syaikh Adian Husaini, “Ingatlah Allah dikala senang, maka Allah akan mengingatmu dikala susah”. Jadi, detik ini tak perlulah bingung-bingung mau berbuat apa, hanya dzikrullah yang cocok di segala masa. Hmm... ^_~

Kedatangan kami disambut oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia. Suatu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Biasanya acara-acara seperti ini hanya saya lihat di sebuah stasiun televise yang menayangkan parade perlombaan international bergensgi atau kunjungan kenegaraan. Ya Allah…malu  sungguh saya ini. Dengan tampang masih kusut dan mata sembab setelah menangis diawal perjalanan, saya dan kawan-kawan berjalan menghampiri dan dihampiri crew penyambut. Memang tidak ada karpet merah dan terompet pengiring, tapi kalungan bunga Anggrek Hijau telah menghiasi leher saya dan kawan-kawan, dan bagi saya hal itu sudah sangat luaaaar biasa. Maklum lah, setiap kali pulang kerumah tak ada hal macam itu, yang ada adalah peluk-cium Ibunda dan saudara/i tercinta. So, kalung bunga ini adalah substitusinya. Hehe… 

*Eits, Ala fikrah, kok mereka tahu ya kalau saya haaasrat sangat Anggrek Hijau? Ah, everything was fate lah. Kekeke…




Perth pagi hari begitu sejuk dan mendamaikan jiwa, keramaiannya memang tidak seperti semrawutnya Jakarta. Bandara yang tidak pernah sepi dari jadwal penerbangan dan interaksi multi-lateralnya, seperti halnya Garuda Indonesia yang telah menghantarkanku pada Negara ini.

Soekarno-Hatta International Airport


August, 16th 2012
 
Pada pagi yang damai lewat sentuhan dingin yang  menyapu kulit. Tak ada sepatah kata pun yang terucap ketika kami duduk didalam mobil yang mengantarkan hingga Bandara Soekarno Hata. Bukan karena kantuk yang menyerang atau bahkan karena waktu yang begitu mendilatasi partisi jiwa, tapi karena begitu sulit kami merangkai kata perpisahan. Aku dan Ibunda, hanya terdiam menafakuri apa yang tersemat dihati dan tak tersibak lewat ungkapan.

Sesekali ku tengok wajahnya yang meunjukan gurat-gurat kelelahan, semakin lama memandangnya, semakin deras air mata beriringan. Ah, betapa Allah karuniakan rindu dan cinta selaksa alam kepadanya, kepada seorang mujahidah pendamba Surga lewat cinta kasih tulus pada anak-anaknya. Ku biarkan dingin masih terus menyelimuti rindu, hingga barisan katapun tak bisa kurajut. Kini rindu itu berbalas temu satu hari, dimana aku dan nya menzahirkan kasih yang terlewat sekian lama, dan harus ku tinggalkan ia bahkan pada kesempatan menyongsong takbir raya kemenangan.

Hingga 30 menit berlalu menapaki sepi, kemegahan Soekarno-Hatta telah hadir didepan pandangan. Tak kuasa lagi kutanggung bayangan getirnya perpisahan, hingga kali ini aku luluh dalam pelukannya. Ah, mungkin terlalu berlebihan, sebab aku pergi tak akan lama, hanya 10 hari. Tapi besarnya cintaku menjadi hijab keberangkatanku pada sebuah moment penting dalam hidupku. Oh Rabb, betapa pilu.

Pukul 2.45 kami menghiasi Soe-Ta dengan air mata, berharap bahwa perpisahan sementara ini tak akan lagi terjadi. Sekali lagi kutapaki sunyi tanpa melihat sungging senyumnya dikala lelah dalam belajar, sekali lagi ku jalani rindu dalam kesesuaian masa, entah pada saat mana kita akan bersama.

24/06/2012

My Way....

Waktu sudah menunjukkan pukul 1.25am ketika satu persatu tugas mata kuliah diselesaikan. Rasa kantuk pun telah hilang, sebab sudah beberapa kali menunda waktu tidur dengan sengaja mengazamkan diri "harus menyelesaikan tugas sebelum deadline tiba". Alhamdulillah...

Sampai paragraf kedua ini ditulis, jarum panjang telah menggeserkan dirinya ke arah angka 10 yang berarti jam 2 akan segera tiba 10 menit lagi. Tidak bermaksud memaksakan diri untuk tidak tidur, namun fikiran saya masih bekerja dan hati masih rasa bertanya-tanya pada banyak hal yang telah saya lampaui setelah 20 tahun lamanya bernafas di dunia. Saya masih terus bertanya apakah saya sudah cukup bermanfaat untuk orang sekitar saya? Selekat apa kedudukan Allah di qalbu saya? Cinta yang mana yang saya kerahkan untuk ummi, abi, dan ikhwah di sekeliling saya? 

Jarum panjang jam di dinding masih terus berdetik ketika seorang Maya Nasri berkebangsaan Timur Tengah menghantarkan lantunan lagunya berjudul Ruh. Cukup menyejukkan jiwa, namun sontak menyindir diri saya ketika dipaksa harus berproyeksi pada laku yang telah di buat. Ketika ruh akan mulai tercabut dan terpisah dari jasadnya, maka tak akan ada lagi yang bisa diperbuat di dunia, kecuali orang-orang disekitar kita menghantarkan kita pada ruang tergelap tertutup tanah, berteman makhluk tanah dan lembabnya hawa disana. Kali ini fikir saya semakin teraduk-aduk, men-stirr rasa malu yang terus berkecamuk.

Teringat laku diri, siang tadi seorang ikhwah berkata lewat pesan singkatnya, "Ukhti, coba deh doing something uncomfortable zone, hehe..."
Perkataan itu masih tersimpan baik bahkan hingga detik ini kata-kata itu masih memenuhi rongga fikir untuk dimuhasabah lebih jauh.

Benar memang perkataannya, jika saya renungkan, selama ini saya memang hidup dalam kemudahan. Allah terlalu baik, dan sayangnya saya masih jua terlena akan kemudahan itu. Mengeja akan rententan kehidupan saya, beliau memang berkata dengan sesungguhnya keadaan. Sejak kecil hingga saat ini, saya selalu hidup dalam keberlimpahan kasih sayang Ummi dan Abi, terlebih-lebih ketika Abi telah berpulang, Ummi semakin memanjakan saya dengan kasih sayang yang tiada tara. Tentu bukan konteks material semata masalahnya, sebab Ummi dan Abi saya adalah orang yang strict terhadap kesahajaan. Hal itu yang terus terbawa hingga saat ini. Ketika memasuki dunia pendidikan, Ummi adalah orang pertama yang memaklumi saya yang bangga dengan ranking ke 10. Beliau pula orang pertama yang memberikan senyuman  atas persepsi polos saya. Dahulu sekali, ketika sistem caturwulan masih berlaku, dan ketika saya mulai mengenal bangku sekolah, saya sangat menginginkan urutan ke 10 ada pada baris peringkat di buku laporan hasil belajar siswa.

Namun, ketika tahu hal yang seharusnya, maka di cawu selanjutnya saya mengejar ketertinggalan dan berusaha menghapus angka 0 disebelah kanan angka 1. Tujuan itu tercapai. Tentu atas ijin Allah. Ummi pernah bilang, saya adalah seorang perempuan tipe "goal oriented". Betul memang, saya tak akan berhenti berusaha sampai keinginan saya tercapai. Disamping itu, ada ummi yang senantiasa membebaskan saya dari pekerjaan rumah dengan tujuan agar saya bisa belajar sepanjang waktu dengan kepuasan hati saya. Tentu ini menjadi kesenangan tertinggi untuk saya, mengurung diri sepanjang waktu didalam kamar. Memang peringkat 1 itu terus berlanjut hingga saya lulus Madrasah Tsanawiyah.

16/06/2012

The Principles of Language Teaching and Learning



Language teaching and learning deal with many factors in principles. This may cause several questions related to it. Before we understand on the principles of language teaching and learning, we must know about language learning. What do we know about language learning? In outside of context any classroom, all children who are repeatedly exposed to a language will in normal circumstances learn it (Jeremy Harmer, 2002:24). Basically, the children who learn a language, they will do unconsciously rather than a form a study. And adults who learn language without studying, they will be able to use language. In one side, it will be a point that sometimes they still have more trouble in pronunciation and grammar, but at least they still able communicate fluently than younger learners.

And still in Harmer’s state, the students who learn and acquire language in outside classroom, they will share certain similarities in their learning experiences. It is caused of they are usually exposed to language that they more or less understand, and they are also motivated to learn the language in order to be able to communicate and the last they are given a chance to use the language they are learning.

Knowing the Learners and Teacher's Role



In the process teaching and learning, there are so many useful activities that we can take it from it. Everyone there has the different roles. The teacher has roles as the teacher, and the learner has roles as the learners. But, how we can know their roles? To understand more about the learners and teachers’ roles, I recently have five questions that related to it.
Actually, what are the teacher’s roles in the classroom? From Harmer’s studies about his interested to know what people responses in the topic of how to be a good teacher. These all answers can representative generally what are the teacher’s roles from their best deed in the classroom. Harmer in his book How to Teach English (2007, p 1) said that the teachers role in the classroom not only have an affinity from the teacher and the students. But, the teacher also has many roles others. In one side from his study about this topic, said that the teacher also has role as an entertainer in positive sense, not in negative sense. In other words, the teacher can make the students enjoy being entertained and amused (p.2). Still in his book, the teacher also should become parent and friend for their leraner. Here, the teacher is demanded to be a person who love their students like as the parent to their children. But, in the other side, the teacher are also demanded to be a nice friend to their student who can be empathy to their friend’s problem.

Report of Teaching Reading and Writing


Language teaching deals with many aspects interactive and integrated approaches to emphasize the relationship of skills. We must know that reading ability will be developed best in association with writing, listening, and speaking activities. Even the labelling “Reading” skill must be interrelationship of skill especially in reading-writing (Brown, 2002:298). Based on my reading of that book, I have to put forward five questions for it.

My first question, I propose the question about how the research on reading in second language, particularly in bottom-up and top-down processing. To answer my question, I red a book by Brown (2002), he wrote that research on reading in second language was almost nonexistent in the 1970s. At the time, the research about first reading had been flourishing to find why some children could not read. Then, after three decades, the research reveals some significant finding for teaching reading in second language.

Learning through Stories


In learning language, there are some approaches to make the children as learners gather the target language. One of the approaches is through a story.  Cameron (2001) said that stories as the holistic approaches to language teaching and learning. And to answer some question about learning through stories, I try to hold a Cameron’s book as a basic knowledge about that.

For the first question that was proposed; do you think stories can be used to help children learn English? In this case, I fully believe that stories can be used to help children to learn English. We can know how important and useful the use of stories by analyzing from the examining the text in the story and analyzing the discourse organization of stories, and also the language that is used in the stories. In learning English through stories the process involving and even improving the students’ skills. Here, like as story telling is an oral activity and it has a shape they do because they are designed to be listened to and participate in. And as we know, in oral activity there are two process; receptive skill and productive skill. For the example in the class situation; the teacher bring a book story to the class, then s/he tells a story to the children by using English. When the teacher tells the story and the students pay attention to it, it was a process of receptive skill. And after that, when the teacher doing communicating to the students by asking e.g “than, what happen next” or even asking them, “Who is wear the red gloves?” it evokes the students to answer and speak in English, and it is a productive skill. In other case, the teacher can use other words that have same similar consonants (alliteration) to make the students learn the new words in English. From these my arguments, I believe that stories can help the children to learn English. Wright also adds that stories are frequently claimed to bring many benefits to young learners (1997), while Bettelheim said that stories can serve as metaphors for society or for our deepest psyche (1976).

13/06/2012

Waiting Time

Menunggu satu hal yang harusnya pasti, tapi kini malah menjadi mengawang-awang. Setengah jam dalam perjalanan berharap I will be the best in the presentation at 3pm. Hufft.. It may be only a hope, because until this time, there is no people others, except me and 1 of my friend.

Waiting for the another time...

Until 3.45, there are no people except us. So, my question is, jadi gak sih, saya kan udah siap banget nih mau presentasi... :( --masyaallah, takabur banget deh--
Padahal udah baca postingan seseorang tentang kiat menghalau nervous, ya Rabbi...

Hhh...Jadi, ayamku??? eh, Jadi, nasibku???

07/05/2012

Fase Hidup

Terkadang saya berfikir bagaimana agar bisa melangkah pada anak tangga kehidupan selanjutnya bila hati merasa stagnan dan cara berfikir telampau apatis. Hampir hilanglah kesabaran dan muncul keputus-asaan tentang hidup ini, akankah wafat dalam kehusnul khatimahan? Allah ya Rabb... Faghfirliy..

Saya tak ingin tanyakan kenapa sakit ini terus bersemayam dalam jiwa, dan mengapa hanya sebagian kecil orang yang merasainya. Dan saya, adalah termasuk dari mereka. Sekali lagi, tak ingin saya tanyakan itu. Tapi tiap kali berdiam diri, sepi menjambak-jambak hati untuk terus terperosok dalam jurang tanya mendalam, Allah apakah sakit ini tak akan kunjung sembuh hingga ajal menjelang masa?

Kata tiada ku ucap pada siapapun jiwa, baik shahib terdekat, apalah lagi pada ibunda dan keluarga tercinta. Biar Allah menjadi tempat mengadu segala problema. Tapi, jika masa begitu terasa berat dan beban sudahlah memuncak, hanya air mata yang tumpah dalam peraduan. Sakitnya teramat sangat, bahkan aku takut mati dalam kesakitan itu. Ya, aku takut menjumpai Allah dan terputus ajal ketika aku merasakan sakitnya sakitku. Sebab aku tak mau Dia melihatku dalam keadaan tak lagi cantik menikmati dan mensyukuri hidup.

Ya Allah, semakin hari semakin menjadi. Sakitnya memang melebihi rasa semayam duri dalam daging. Apakah kiranya ini yang menjadi momok stadium akhirku. Aku tak tahu. Dokter dan obat bukanlah cinta yang menyembuhkan. Tapi yang kubutuh hanya sebuah nasihat yang menyejukkan.

Ya Allah, hingga umurku menjelang 20, tak satupun jiwa yang ku ijinkan tahu tentangku. Biar cukup antara Kau dan aku, kita jalin cinta lewat itu. Yang ku ingin kini, pengasingan diri dan menjalin cintaku pada-Mu yang telah lama robek lewat dosa-dosa dilatasi waktuku. Semaian benih cintaku, masih lama tumbuh hingga ia berubah menjadi mahabbah tak terbeli dunia. Ya Allah, Isyfali...

Sudut ruang disaat sakit itu sungguh merasuki jiwa